1.Definisi Gunung
Meletus:
Gunung
meletus, terjadi akibat endapan magma di dalam perut bumi yang didorong keluar
oleh gas yang bertekanan tinggi. Dari letusan-letusan seperti inilah gunung
berapi terbentuk. Letusannya yang membawa abu dan batu menyembur dengan keras
sejauh radius 18 km atau lebih, sedang lavanya bisa membanjiri daerah sejauh
radius 90 km. Letusan gunung berapi bisa menimbulkan korban jiwa dan harta
benda yang besar sampai ribuan kilometer jauhnya dan bahkan bias mempengaruhi
putaran iklim di bumi ini. Hasil letusan gunung berapi berupa:
Pengertian gunung meletus:
Gas Vulkanik
Lava dan Aliran Pasir serta Batu Panas
Lahar
Abu Letusan
Awan Panas (Piroklastik)
Gas vulkanik adalah gas-gas yang dikeluarkan saat terjadi
letusan gunung berapi yang dikeluarkan antara lain carbon monoksida (CO),
Carbondioksida(Co2), Hidrogen Sulfida (H2S), sulfurdioksida(SO2) dan nitrogen
(NO2) yang membahayakan manusia.
Lava adalah cairan magma yang bersuhu tinggi yang mengalir
ke permukaan melalui kawah gunung berapi. Lava encer mampu mengalir jauh dari
sumbernya mengikuti sungai atau lembah yang ada sedangkan lava kental mengalir
tidak jauh dari sumbernya.
Lahar adalah merupakan salah satu bahaya bagi masyarakat
yang tingla di lereng gunung berapi. Lahar adalah banjir Bandang di lereng
gunung yang terdiri dari campuran bahan vulkanik berukuran lempung sampai
bongkah. Dikenal sebagai lahar letusan dan lahar hujan. Lahar letusan terjadi
apabila gunung berapi yang memiliki danau kawah meletus, sehingga air danau yang
panas bercampur dengan material letusan, sedangkan lahar hujan terjadi karena
percampuran material letusan dengan air hujan di sekitar puncaknya.
Abu letusan gunung berapi adalah material yang sangat halus.
Karena hembusan angin dampaknya bisa dirasakan ratusan kilometer jauhnya.
Dampak abu letusan permasalahan pernafasan, kesulitan penglihatan, pencemaran
sumber air bersih, menyebabkan badai listrik, mengganggu kerja mesin dan
kendaraan bermotor, merusak atap, merusak ladang, merusak infrastruktur tubuh.
Awan panas bisa berupa awan panas aliran, awan panas
hembusan dan awan panas jatuhan. Awan panas aliran adalah awan dari material
letusan besar yang panas, mengalir Turun dan akhirnya mengendap di dalam dan
disekitar sungai dari lembah. Awan panas hembusan adalah awan dari material
letusan kecil yang panas, dihembuskan angin dengan kecepatan mencapai 90
km/jam. Awan panas jatuhan adalah awan dari material letusan panas besar dan
kecil yang dilontarkan ke atas oleh kekuatan letusan yang besar. Material berukuran
besar akan jatuh di sekitar puncak sedangkan yang halus akan jatuh mencapai
puluhan, ratusan bahkan ribuan km dari puncak karena pengaruh hembusan angin.
Awan panas bisa mengakibatkan luka bakar pada bagian tubuh yang terbuka seperti
kepala, lengan, leher atau kaki dan juga menyebabkan sesak sampai tidak
bernafas.
SELAMA LETUSAN:
Ikuti perintah pengungsian yang diperintahkan oleh yang
berwenang.
Hindari melewati searah dengan arah angin dan sungai-sungai
yang berhulu di puncak gunung yang
sedang meletus.
Apabila terjebak di dalam ruangan/ rumah :
- Tutup seluruh jendela, pintu-pintu masuk dan lubang
/keran
- Letakkan seluruh mesin ke dalam garasi atau tempat yang
tertutup.
- Bawa binatang atau hewan peliharaan lainnya ke dalam ruang
yang terlindung
Apabila berada di ruang terbuka:
- Cari ruang perlindungan .
- Apabila terjadi hujan batu, lindungi kepala dengan posisi
melingkar seperti bola.
- Apabila terjebak dekat suatu aliran, hati-hati terhadap
adanya aliran lahar.Cari tempat
yang lebih tinggi terutama
- Lindungi diri anda dari hujan
- Kenakan pakaian kemeja lengan panjang dan celana
- Gunakan kacamata untuk melindungi mata anda
- Gunakan masker debu atau gunakan kain/ sapu tangan untuk
melindungi pernapasan
anda
- Matikan mesin mobil atau kendaraan lainnya kalau mendengar
adanya aliran lahar
Hindari daerah bahaya yang telah ditetapkan oleh pemerintah/
lembaga yang berwenang/lihat peta daerah bahaya gunung api
Akibat letusan gunungapi bisa dirasakan berkilo meter
jauhnya dari gunung api yang sedang meletus. Aliran lahar dan banjir bandang,
kebakaran hutan bahkan aliran awan panas yang mematikan dapat mengenai anda
yang bahkan tidak melihat ketika gunung api meletus. Hindari lembah-lembah
sungai dan daerah yang rendah. Mencoba mendekati gunung api yang sedang meletus
merupakan ide yang dapat membawa maut.
Apabila anda melihat permukaan aliran air sungai naik
cepat-cepat cari daerah yang lebih tinggi. Apabila aliran lahar melewati
jembatan jauhi jembatan tersebut. Aliran lahar memiliki daya kekuatan yang
besar , membentuk aliran yang mengandung lumpur dan bahan gunung api lainnya
yang dapat bergerak dengan kecepatan 30-60 kilometer perjam. Awan panas yang
mengandung debu gunungapi dapat membakar tumbuhan yang dilaluinya dengan amat
cepat. Dengarkan berita dari radio atau televisi mengenai situasi terakhir
bahaya letusan gunung api.
PASCA LETUSAN:
Apabila mungkin, hindari daerah-daerah zona hujan abu.
Apabila berada di luar ruangan:
- Tutup mulut dan hidung anda. Debu gunungapi dapat
mengiritasi system pernapasan
anda.
- Gunakan kacamata untuk melindungi mata anda.
- Lindungi kulit anda dari iritasi akibat debu
gunungapi.
- Bersihkan atap dari hujan debu gunungapi
- Hujan debu yang menutupi atap sangat berat dan dapat
mengakibatkan runtuhnya atap bangunan.
Hati-hati ketika bekerja di atap bangunan rumah.
Hindari mengendarai kendaraan di daerah hujan abu yang
lebat.
Mengendarai kendaraan mengakibatkan debu tersedot dan dapat
merusak mesin kendaraan tersebut.
Apabila anda punya penyakit pernapasan, hindari sedapat
mungkin kontak dengan debu gunung api.
Tinggallah di dalam rumah sampai keadaan dinyatakan aman di
luar rumah.
Ingat untuk membantu tetangga yang mungkin membutuhkan
pertolongan seperti orang tua, orang yang cacat fisik, anak-anak yang tidak
memiliki orang tua dan sebagainya.
Tips Menghadapi Letusan Gunung Merapi
SEBELUM LETUSAN:
Cari tahu tentang system pengamanan di komunitas daerah
masing-masing serta bagan alur keadaan darurat
Waspadai mengenai bahaya yang menyertai letusan gunungapi
yaitu :
- Lahar dan banjir bandang
- Longsor dan hujan batu
(material gunung api)
- Gempa bumi
- Hujan abu dan hujan asam
- Tsunami
Lakukan rencana evakuasi
- Apabila anda tinggal di daerah rawan bencana gunung api,
harus ingat route mana
yang aman untuk dilalui.
- Bentuk komunitas bahaya bencana gunungapi
- Apabila anggota keluarga tidak berkumpul ketika terjadi
letusan (misalnya yang
dewasa sedang bekerja dan anak-anak sedang sekolah) usahakan
untuk berkumpul
dalam keluarga jangan terpisah.
- Mintalah keluarga yang tinggal berjauhan untuk saling
mengontak sebagai ‘hubungan
keluarga’ sebab sehabis terjadi bencana biasanya lebih mudah
untuk kontak jarak jauh.
Tiap anggota keluarga usahakan untuk mengetahui nama, alamat
dan nomor telepon
anggota keluarga yang lain.
Buatlah persediaan perlengkapan darurat seperti :
- Batere/ senter dan extra batu batere
- Obat-obatan untuk pertolongan pertama
- Makanan dan air minum untuk keadaan darurat.
- Pembuka kaleng
- Masker debu
- Sepatu
- Pakailah kacamata dan gunakan masker apabila terjadi hujan
abu.
Hubungi pihak-pihak yang berwenang mengenai penanggulangan
bencana.
Walaupun tampaknya lebih aman untuk tinggal di dalam rumah
sampai gunungapi berhenti meletus, tapi
apabila anda tinggal di daerah rawan bahaya gunungapi akan sangat berbahaya.
Patuhi instruksi yang berwenang dan lakukan secepatnya.
2. Definisi Gempa Bumi:
Gempa bumi adalah
pergerakan (bergesernya) lapisan batu bumi yang berasal dari dasar atau bawah
permukaan bumi.
Pengetian gempa bumi menurut jenisnya:
Tektonisme
Keragaman muka bumi
dipengaruhi oleh adanya gerakangerakan di kerak bumi, baik gerakan mendatar
maupun gerakan tegak. Gerakangerakan tersebut mengakibatkan terjadinya
perubahan bentuk yang menghasilkan pola baru yang disebut struktur diastropik.
Bentuk baru yang termasuk dalam struktur diastropik adalah pelengkungan,
pelipatan, patahan, dan retakan. Pelengkungan : lapisan kulit bumi yang semula
mendatar jika mendapat tekanan vertikal akan membentuk struktur melengkung.
Lengkungan tersebut dapat mengarah ke atas yang disebut kubah (dome) dan dapat
mengarah ke bawah yang disebut basin.
Vulkanisme
Vulkanisme merupakan
proses keluarnya magma ke permukaan bumi. Keluarnya magma ke permukaan bumi
umumnya melalui retakan batuan, patahan, dan pipa kepundan pada gunung api.
Jika magma yang berusaha keluar tidak mencapai permukaan bumi, proses ini
disebut intrusi magma. Jika magma sampai di permukaan bumi, proses ini disebut
ekstrusi magma. Magma yang sudah keluar ke permukaan bumi disebut lava.
Proses vulkanisme menghasilkan berbagai bentuk muka bumi
antara lain:
(1) kawah, lubang berbentuk mangkuk di puncak gunung api
(2) kaldera, hasil letusan gunung api yang berbentuk seperti
kawah tetapi berukuran jauh lebih besar. Karena besar, pada sebuah kaldera
dapat terbentuk danau, emisi gas, mata air panas, dan gunung api corong kecil
(3) berbagai bentuk gunung api. Intrusi magma menghasilkan
bentukan-bentukan berikut.
(1) Retas (sill), magma yang membeku di antara dua lapisan
batuan yang ada di dalam bumi berupa batuan beku.
(2) Lakolit, bentuk cembung ke atas tetapi datar di bawah
akibat magma yang menekan ke atas di antara dua lapisan batuan sedimen.
(3) Gang atau korok, bentukan tipis dan panjang memotong
lapisan litosfer secara vertikal atau miring yang berasal dari magma yang
membeku ketika berusaha menerobos batuan sedimen.
(4) Batholit, magma yang membeku jauh di dalam bumi.
Seisme
Bila tumpukan energi di daerah penujaman demikian besar,
energi tersebut akan mampu menggoyang atau menggetarkan lempeng benua dan
lempeng samudera di sekitarnya. Gayangan atau getaran ini disebut gempa bumi.
Gejala ini disebut seisme. Getaran yang dihasilkan akibat pergeseran kerak bumi
tersebut dapat besar maupun kecil. Besar kecilnya kerusakan di muka bumi
disebabkan oleh besar kecilnya gempa tersebut.
Klasifikasi Gempa
Gempa dapat digolongkan menjadi beberapa kategori. Menurut
proses terjadinya, gempa bumi diklasifikasikan menjadi seperti berikut.
(1) Gempa tektonik: terjadi akibat tumbukan lempeng-lempeng
di litosfer kulit bumi oleh tenaga tektonik. Tumbukan ini akan menghasilkan
getaran. Getaran ini yang merambat sampai ke permukaan bumi.
(2) Gempa vulkanik: terjadi akibat aktivitas gunung api.
Oleh karena itu, gempa ini hanya dapat dirasakan di sekitar gunung api
menjelang letusan, pada saat letusan, dan beberapa saat setelah letusan.
(3) Gempa runtuhan atau longsoran: terjadi akibat daerah
kosong di bawah lahan mengalami runtuh. Getaran yang dihasilkan akibat runtuhnya
lahan hanya dirasakan di sekitar daerah yang runtuh.
Menurut bentuk episentrumnya, ada dua jenis gempa.
(1) Gempa sentral: episentrumnya berbentuk titik.
(2) Gempa linear: episentrumnya berbentuk garis. Menurut
kedalaman hiposentrumnya, ada tiga jenis gempa.
(1) Gempa bumi dalam: kedalaman hiposenter lebih dari 300 km
di bawah permukaan bumi.
(2) Gempa bumi menengah: kedalaman hiposenter berada antara
60-300 km di bawah permukaan bumi.
(3) Gempa bumi dangkal: kedalaman hiposenter kurang dari 60
km.
Menurut jaraknya, ada tiga jenis gempa.
(1) Gempa sangat jauh: jarak episentrum lebih dari 10.000
km.
(2) Gempa jauh: jarak episentrum sekitar 10.000 km.
(3) Gempa lokal: jarak episentrum kurang 10.000 km.
Menurut lokasinya, ada dua jenis gempa.
(1) Gempa daratan: episentrumnya di daratan.
(2) Gempa lautan: episentrumnya di dasar laut. Gempa jenis
inilah yang menimbulkan tsunami.
Pengukuran Gempa Bumi
Getaran gempa dari hiposentrum merambat dan menyebar ke
segala arah. Getaran itu berupa gelombang primer dan gelombang sekunder. Dari
episentrum, juga terjadi rambatan getaran di permukaan bumi dalam bentuk
gelombang panjang. Jadi, gelombang gempa dapat dibedakan atas:
(1) gelombang primer (P): merupakan gelombang longitudinal
yang merambat di permukaan bumi dengan kecepatan 4-7 km per detik
(2) gelombang sekunder (S): berupa gelombang transversal
yang merambat di permukaan bumi dengan kecepatan 2-6 km per detik
(3) gelombang panjang (L): merupakan gelombang permukaan
dengan kecepatan lebih lambat.
Kekuatan Gempa
Kerusakan yang ditimbulkan oleh gempa bumi dipengaruhi oleh
beberapa faktor. Faktor-faktor tersebut antara lain kekuatan gempa, letak
hiposentrum, struktur tanah, dan struktur bangunan.
Kekuatan gempa (magnitude) diukur berdasarkan tingkat
kerusakan yang dihasilkan. Ada beberapa skala yang digunakan untuk mengukur
kekuatan gempa, antara lain Skala Omari, Skala Richter, Skala Cancani, dan
Skala Mercalli.
Tips Menghadapai
Gempa Bumi
1. Jika berada di dalam rumah: Masuklah ke bawah meja untuk
melindungi tubuhmu dari jatuhan benda-benda. Jika kamu tidak memiliki meja,
lindungi kepalamu dengan bantal. Jika kamu sedang menyalakan kompor, matikan
segera untuk mencegah terjadinya kebakaran.
2. Jika berada di luar rumah: Lindungi kepalamu dan hindari
benda-benda berbahaya. Di daerah perkantoran atau kawasan industri, bahaya bisa
muncul dari jatuhnya kaca-kaca dan papan-papan reklame. Lindungi kepalamu
dengan menggunakan tangan, tas atau apa pun yang kamu bawa.
3. Jika kamu berada di mall, bioskop, atau di lantai dasar
gedung: Jangan menyebabkan kepanikan atau korban dari kepanikan. Ikuti semua
petunjuk dari pegawai atau satpam.
4. Jika kamu berada di dalam lift: Jangan menggunakan lift
saat terjadi gempa bumi atau kebakaran. Jika kamu merasakan getaran gempa bumi saat
berada di dalam lift, tekanlah semua tombol. Ketika lift berhenti, keluarlah,
lihat keamanannya dan mengungsilah. Jika kamu terjebak dalam lift, hubungi
petugas gedung dengan menggunakan interphone jika tersedia.
5. Jika kamu berada di dalam kereta api: Berpeganganlah
dengan erat pada tiang sehingga kamu tidak akan terjatuh seandainya kereta
dihentikan secara mendadak. Bersikap tenanglah mengikuti penjelasan dari
petugas kereta. Salah mengerti terhadap informasi petugas kereta atau stasiun
akan mengakibatkan kepanikan.
6. Jika kamu berada di dalam mobil: saat terjadi gempa bumi
besar, kamu akan merasa seakan-akan roda mobil tersebut gundul. Sopir akan
kehilangan kontrol terhadap mobil dan susah mengendalikannya. Jauhi
persimpangan, pinggirkan mobil di kiri jalan dan berhentilah. Ikuti instruksi
dari radio mobil. Jika harus mengungsi, keluarlah dari mobil, biarkan mobil tak
terkunci.
7. Jika kamu berada di gunung/pantai: Ada kemungkinan
longsor terjadi dari atas gunung. Menjauhlah langsung ke tempat aman. Di
pesisir pantai, bahayanya datang dari tsunami. Jika kamu merasakan getaran dan
tandatanda tsunami tampak, cepatlah mengungsi ke dataran yang tinggi.
8. Dengarkan informasi: Saat gempa bumi besar terjadi,
masyarakat terpukul kejiwaannya. Untuk mencegah kepanikan, penting sekali
setiap orang bersikap tenang dan bertindaklah sesuai dengan informasi yang
benar. Kamu dapat memperoleh informasi yang benar dari pihak berwenang, polisi,
atau petugas PMK. Jangan bertindak karena informasi orang yang tidak jelas.
3.Definisi Tsunami:
Air laut yang meluap ke daratan dengan bantuan pergerakan
lempeng bumi.
Pengertian
Tsunami:
Tsunami adalah gelombang air yang sangat besar yang
dibangkitkan oleh macam-macam gangguan di dasar samudra. Gangguan ini dapat berupa
gempa bumi, pergeseran lempeng, atau gunung meletus. Tsunami tidak kelihatan
saat masih berada jauh di tengah lautan, namun begitu mencapai wilayah dangkal,
gelombangnya yang bergerak cepat ini akan semakin membesar.
Tsunami juga sering disangka sebagai gelombang air pasang.
Ini karena saat mencapai daratan, gelombang ini memang lebih menyerupai air
pasang yang tinggi daripada menyerupai ombak biasa yang mencapai pantai secara
alami oleh tiupan angin. Namun sebenarnya gelombang tsunami sama sekali tidak
berkaitan dengan peristiwa pasang surut air laut. Karena itu untuk menghindari
pemahaman yang salah, para ahli oseanografi sering menggunakan istilah
gelombang laut seismik (seismic sea wave) untuk menyebut tsunami, yang secara
ilmiah lebih akurat.
Sebab-sebab
terjadinya gelombang tsunami
Tsunami dapat
dipicu oleh bermacam-macam gangguan (disturbance) berskala besar terhadap air
laut, misalnya gempa bumi, pergeseran lempeng, meletusnya gunung berapi di
bawah laut, atau tumbukan benda langit. Tsunami dapat terjadi apabila dasar
laut bergerak secara tiba-tiba dan mengalami perpindahan vertikal.
Langkah yang harus dilakukan Sinoman Sadar Bencana ini
antara lain :
Petakan daerah rawan genangan tertinggi tsunami, jalur
evakuasi, dan tempat penampungan sementara yang cukup aman.
Berkoordinasi dengan Badan Meterologi dan Geofisika (BMG),
kepolisian, pemerintah daerah, dan rumah sakit. Jika data dari BMG mengenai
peringatan dini bencana tak bisa diharapkan kecepatannya, komunitas ini harus
menghimpun gejala-gejala alam yang tidak biasa terjadi.
Melakukan pertemuan rutin untuk menambah pengetahuan
mengenai gempa dan tsunami. Jika perlu, mendatangkan ahli.
Melakukan latihan secara reguler, baik terjadwal maupun
tidak terjadwal.
Buat deadline waktu respon evakuasi untuk diterapkan saat
latihan agar dalam bencana sesungguhnya telah terbiasa merespon secara cepat.
Buat kode tertentu yang dikenali masyarakat sekitar untuk
menandakan evakuasi. Semisal di Pulau Simeuleu yang paling dekat dengan
episentrum gempa Aceh, memiliki istilah Semong yang diteriakkan berulang kali
untuk menunjukkan adanya tsunami. Dengan kode ini, otomatis harus dilakukan
evakuasi secepatnya ke tempat yang lebih tinggi.Menyebarkan gambar peta
evakuasi di pelosok daerah tempat anggota komunitas tinggal.
Menyebarkan gambar peta evakuasi di pelosok daerah tempat
anggota komunitas tinggal.
Sedangkan langkah yang harus dilakukan tiap individu adalah
:
Siapkan satu tas darurat yang sudah diisi
keperluan-keperluan mengungsi untuk 3 hari. Di dalamnya termasuk, pakaian,
makanan, surat-surat berharga, dan minuman secukupnya. Jangan membawa tas
terlalu berat karena akan mengurangi kelincahan mobilitas.
Selalu merespon tiap latihan dengan serius sama seperti saat
terjadinya bencana.
Selalu peka dengan fenomena alam yang tidak biasa.
Untuk membaca tanda-tanda alam sebelum terjadinya tsunami,
Amien Widodo memberikan sejumlah petunjuk berdasarkan pengalaman
tsunami-tsunami sebelumnya.
Terdengar suara gemuruh yang terjadi akibat pergeseran
lapisan tanah. Suara ini bisa didengar dalam radius ratusan kilometer seperti
yang terjadi saat gempa dan tsunami di Pangandaran lalu.
Jika pusat gempa berada di bawah permukaan laut dikedalaman
dangkal dan kekuatan lebih dari 6 skala richter, perlu diwaspadai adanya
tsunami.
Jangka waktu sapuan gelombang tsunami di pesisir bisa
dihitung berdasarkan jarak episentrumnya dengan pesisir.
Garis pantai dengan cepat surut karena gaya yang ditimbulkan
pergeseran lapisan tanah. Surutnya garis pantai ini bisa jadi cukup jauh.
Karena surutnya garis pantai, tercium bau-bau yang khas
seperti bau amis dan kadang bau belerang.
Untuk wilayah yang memiliki jaringan pipa bawah tanah,
terjadi kerusakan jaringan-jaringan pipa akibat gerakan permukaan tanah.
Dalam sejumlah kasus, perilaku binatang juga bisa dijadikan
peringatan dini terjadinya tsunami. Sesaat sebelum tsunami di Aceh, ribuan
burung panik dan menjauhi pantai, sedangkan gajah-gajah di Thailand gelisah dan
juga menjauhi pantai.
4. definisi banjir :
banjir
adalah peristiwa terbenamnya daratan yang biasanya kering karena peningkatan
volume air yang diakibatkan dari tingginya curah hujan, meluapnya air sungai
atau laut, dan pecahnya bendungan.
Pengertian baanjir:
Banjir adalah banjir yang terjadi secara tiba-tiba
karena terisinya air pada daerah yang tanahnya kering /sukar meresap air ketika
hujan turun, air sukar meresap ke dalam tanah dan akhirnya terjadi banjir .
Faktor penyebab banjir.
a. Curah hujan
yang tinggi.
b.
Berkurangnya/tidak adanya daerah resapan air karena telah digantikan
oleh perumahan, gedung-gedung, pusat perbelanjaan, pengaspalan, dll.
c. Pembuangan
sampah pada saluran air/sungai.
d. Penebangan
pohon di hutan secara ilegal.
Bagaimana banjir dapat terjadi
a. Curah hujan
yang tinggi mengakibatkan terjadi peningkatan volume air yang melebihi daya
tampung kapasitas tanah meresap air sehingga kelebihan air akan meluap dan
membenamkan daratan.
b. Air tidak
dapat meresap ke dalam tanah karena daerah resapan airnya semakin sedikit.
c. Sampah
menyebabkan tersumbatnya saluran air/sungai sehingga apabila hujan turun, air
tidak dapat mengalir dan akhirnya meluap ke daratan. Sampah juga dapat
menyebabkan pendangkalan pada saluran air/sungai sehingga apabila hujan turun air
tidak dapat tertampung lagi karena daya tampungnya sudah berkurang.
d. Pohon di hutan
berguna untuk menahan gerakan air di dalam tanah, karena ditebang secara ilegal
maka apabila turun hujan air akan bebas turun ke daratan rendah.
Akibat banjir
1. Kerusakan
(jembatan, bangunan, sarana umum)
2. Kematian
(manusia, hewan, tumbuhan)
3. Longsor
4. Petani gagal
panen
5. Banyak
penyakit akibat dari banyaknya kuman penyakit yang dibawa oleh banjir dan
menjadi sarang hewan pembawa kuman penyakit.
Antisipasi Banjir
Sebelum terjadi banjir :
1. Bersihkanlah
saluran air dari segala penghalang.
2. Sediakan P3K
dan alat-alat standart penyelamatan.
3. Letakkan
dokumen penting di tempat yang aman atau masukkan pada tempat yang kedap/anti
air.
4. Tutuplah
dengan aman stop kontak listrik. Dan pastikan saluran gas di rumah tidak bocor.
5. Penuhilah
tong bak mandi, ember, dan segala wadah air lain dengan air bersih.
6. Persiapkan
alat-alat komunikasi seperti radio kecil dengan baterai penuh.
5. definisi kekeringan :
Apabila hujan tidak turun dan tanah mengering tumbuhan layu
dan curah hujan kurang dari 50%
Pengertian kekeringan :
kekeringan antara ahli satu dengan ahli
lainnya belum ada kesamaan namun ada beberapa pengertian kekeringan yang dapat
digunakan sebagai acuan dalam pembahasan kekeringan antara lain :
Menurut Shelia B. Red (1995) kekeringan didefinisikan
sebagai pengurangan persediaan air atau kelembaban yang bersifat sementara
secara signifikan di bawah normal atau volume yang diharapkan untuk jangka
waktu khusus. Dampak kekeringan muncul sebagai akibat dari kekurangannya air,
atau perbedaan-perbedaan antara permintaan dan persediaan air. Apabila
kekeringan sudah mengganggu dampak tata kehidupan, dan perekonomian masyarakat
maka kekeringan dapat dikatakan Bencana.
Menurut Palmer (1965) kekeringan meteorologis suatu interval
waktu yang mana suplai air hujan aktual suatu lokasi jatuh/turun lebih pendek
dibanding suplai air klimatologis sesungguhnya (estimasi normal).
Menurut Changnom (1987) kekeringan pertanian suatu periode
ketika air tanah tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan air tanaman sehingga
pertumbuhannya tetap, bahkan tanaman mati.
Jenis-Jenis Kekeringan
Menurut Shelia B. Red (1995) kekeringan bisa dikelompokan
berdasarkan jenisnya yaitu : kekeringan meteorologis, kekeringan hydrologis,
kekeringan pertanian, dan kekeringan sosial ekonomi.
Kekeringan meteorologis, berasal dari kurangnya curah hujan
dan didasarkan pada tingkat kekeringan relatif terhadap tingkat kekeringan
normal atau rata – rata dan lamanya periode kering. Perbandingan ini haruslah
bersifat khusus untuk daerah tertentu dan bisa diukur pada musim harian dan
bulanan, atau jumlah curah hujan skala waktu tahunan. Kekurangan curah hujan
sendiri, tidak selalu menciptakan bahaya kekeringan.
Kekeringan hidrologis mencakup mencangkup berkurangnya
sumber – sumber air seperti sungai, air tanah, danau dan tempat – tempat
cadangan air. Definisinya mencangkup data tentang ketersediaan dan tingkat
penggunaan yang dikaitkan dengan kegiatan wajar dari sistem yang dipasok
(sistem domestik, industri, pertanian yang menggunakan irigasi). Salah satu
dampaknya adalah kompetisi antara pemakai air dalam sistem – sistem penyimpanan
air ini.
Kekeringan pertanian adalah dampak dari kekeringan
meteorologi dan hidrologi terhadap produksi tanaman pangan dan ternak.
Kekeringan ini terjadi ketika kelembapan tanah tidak mencukupi untuk
mempertahankan hasil dan pertumbuhan rata - rata tanaman. Kebutuhan air bagi
tanaman, bagaimanapun juga, tergantung pada jenis tanaman, tingkat pertumbuhan
dan sarana- sarana tanah. Dampak dari kekeringan pertanian sulit untuk bisa
diukur karena rumitnya pertumbuhan tanaman dan kemungkinan adanya faktor –
faktor lain yang bisa mengurangi hasil seperti hama, alang – alang, tingkat
kesuburan tanah yang rendah dan harga hasil tanaman yang rendah. Kekeringan
kelaparan bisa dianggap sebagai satu bentuk kekeringan yang ekstrim, dimana
kekurangan banjir sudah begitu parahnya sehingga sejumlah besar menusia menjadi
tidak sehat atau mati. Bencana kelaparan biasanya mempunyai penyebab – penyebab
yang kompleks sering kali mencangkup perang dan konflik. Meskipun kelangkaan
pangan merupakan faktor utama dalam bencana kelaparan, kematian dapat muncul
sebagai akibat dari pengaruh – pengaruh yang rumit lainnya seperti penyakit
atau kurangnya akses dan jasa – jasa lainnya.
Kekeringan sosioekonomi berhubungan dengan ketersediaan dan
permintaan akan barang – barang dan jasa dengan tiga jenis kekeringan yang
disebutkan diatas. Ketika persediaan barang – barang seperti air, jerami atau
jasa seperti energi listrik tergantung pada cuaca, kekeringan bisa menyebabkan
kekurangan. Konsep kekeringan sosioekonomi mengenali hubungan antara kekeringan
dan aktivitas – aktivitas manusia. Sebagai contoh, praktek – praktek penggunaan
lahan yang jelek semakin memperburuk dampak – dampak dan kerentanan terhadap
kekeringan di masa mendatang.
Kekeringan Pada Tanaman
Ada beberapa hal yang menyebabkan terjadinya kekeringan pada
tanaman meliputi (Winarko, 2004):
Spekulasi petani di lahan tadah hujan, mengharap ada hujan
tetapi tidak terjadi.Pelanggaran terhadap Rencana Pola dan Tata Tanam (SK
Bupati) oleh petani di Daerah Irigasi (DI). Ada 2 kemungkinan: Sengaja
melanggar (spekulasi)dan tidak mengetahui/tidak mendapat informasi.Air irigasi
tidak mengalir ke lokasi, biasanya di bagian hilir DI karena jaringan irigasi
rusak/tidak berfungsi.Bagian hilir akan kekurangan air karena bagian pengguna
hulu boros air.Curah hujan memang dibawah normal (lebih kering daripada
biasanya).Sumber air yang ada lebih cepat mengering/menurun debitnya (terutama
di wilayah DAS).
Akibat Bencana Kekeringan
Menurut Shelia B. Red (1995) bahwa Akibat bencana kekeringan
diantaranya adalah dalam sektor ekonomi, lingkungan, dan sosial.
Ekonomi :
Kerugian-kerugian produksi tanaman pangan, susu, ternak,
kayu, dan perikanan.
Kerugian pembangunan dan pertumbuhan ekonomi nasional
Kerugian pendapatan petani dan lain-lain yang terkena secara
langsung
Kerugian-kerugian dari bisnis turisme dan rekreasi
Kerugian pembangkit listrik tenaga air dan meningkatkan
biaya-biaya energy
Kerugian-kerugian yang terkait dengan produksi pertanian
Menurunya produksi pangan dan meningkatnya harga-harga
pangan
Pengangguran sebagai akibat menurunnya produksi yang terkait
dengan kekeringan
Kerugian-kerugian pendapatan pemerintah dan meningkatnya
kejenuhan pada lembaga-lembaga keuangan
Lingkungan :
Kerusakan terhadap habitat spesies ikan dan binatang
Erosi-erosi angin dan air terhadap tanah
Kerusakan spesies tanaman
Pengaruh-pengaruh terhadap kualitas air (salinisasi)
Pengaruh-pengaruh terhadap kualitas udara (debu, polutan,
berkurangnya daya pandang)
Sosial:
Pengaruh-pengaruh kekurangan pangan ( kekurangan gizi,
kelaparan)
Hilangnya nyawa manusia karena kekurangan pangan atau
kondisi-kondisi yang terkait dengan kekeringan
Konflik di antara penggunan air
Masalah kesehatan karena menurunnya pasokan air
Ketidakadilan dalam distribusi akibat dampak-dampak
kekeringan dan bantuan pemulihan
Menurunnya kondisi-kondisi kehidupan di daerah pedesaan
Meningkatnya kemiskinan, berkurangnya kualitas hidup
Kekacauan social, perselisihan sipil
Migrasi penduduk untuk mendapatkan pekerjaan atau bantuan
pemulihan.
6. definisi tanah longsor:
Tanah yang begerak ke bawah akibat tesktur tanah yang lembab karena
banyaknya air di sekitarnya ,tidak adanya tumbuhan penopangyang ada diatasnya.
Pengertian tanah longsor:
Tanah longsor adalah perpindahan material pembentuk lereng berupa batuan,
bahan rombakan, tanah, atau material campuran tersebut, bergerak kebawah atau
keluar lereng. Proses terjadinya tanah longsor diawali oleh air yang meresap ke
dalam tanah akan menambah bobot tanah. Jika air tersebut menembus sampai ke
tanah kedap air yang berperan sebagai bidang gelincir, maka tanah menjadi licin
dan tanah pelapukan diatasnya akan bergerak mengikuti lereng dan keluar lereng.
Jenis-jenis tanah longsor
Ada enam jenis tanah longsor, yaitu longsor translasi, longsor rotasi,
pergerakan blok, runtuhan batu, rayapan tanah, dan aliran bahan rombakan. Di
indonesia jenis longsor yang paling sering terjadi adalah longsor translasi dan
longsor rotasi. Sementara itu, jenis tanah longsor yang paling banyak memakan
korban jiwa adalah aliran bahan rombakan.
1. Longsor
Translasi
Longsor ini terjadi karena bergeraknya massa tanah dan
batuan pada bidang gelincir berbentuk rata atau menggelombang landai.
2. Longsor Rotasi
Longsoran ini muncul akibat bergeraknya massa tanah
dan batuan pada bidang gelincir berbentuk cekung.
3. Pergerakan Blok
Pergerakan blok terjadi karena perpindahan batuan yang
bergerak pada bidang gelincir berbentuk rata. Longsor jenis ini disebut juga
longsor translasi blok batu.
4. Runtuhan Batu
Runtuhan batu terjadi saat sejumlah besar batuan atau
material lain bergerak kebawah dengan cara jatuh bebas. Biasanya, longsor ini
terjadi pada lereng yang terjal sampai menggantung, terutama di daerah pantai.
Runtuhan batu-batu besar dapat menyebabkan kerusakan parah.
5. Rayapan Tanah
Longsor ini bergerak lambat serta serta jenis tanahnya
berupa butiran kasar dan halus. Longsor ini hampir tidak dapat dikenal. Setelah
beberapa lama terjadi longsor jenis rayapan, posisi tiang-tiang telepon,
pohon-pohon, dan rumah akan miring kebawah.
6. Aliran Bahan
Rombakan
Longsor ini terjadi ketika massa tanah bergerak
didorong oleh air dan terjadi di sepanjang lembah yang mencapai ratusan meter
jauhnya. Kecepatan bergantung pada kemiringan lereng, volume air, tekanan air
dan jenis materialnya.
Faktor-faktor yang menyebabkan longsor
Pada prinsipnya tanah longsor terjadi bila gaya pendorong pada lereng lebih
besar dari gaya penahan. Gaya penahan umumnya dipengaruhi oleh kekuatan batuan
dan kepadatan tanah. Sedangkan gaya pendorong dipengaruhi oleh besarnya sudut
kemiringan lereng, air, beban serta berat jenis tanah batuan.
Faktor penyebab terjadinya gerakan pada lereng juga tergantung pada kondisi
batuan dan tanah penyusun lereng, struktur geologi, curah hujan, vegetasi
penutup dan penggunaan lahan pada lereng tersebut, namun secara garis besar
dapat dibedakan sebagai faktor alam dan faktor manusia:
a) Faktor alam
· Kondisi geologi
: batuan lapuk, kemiringan lapisan, sisipan lapisan batu lempung,
strukutur sesar dan kekar, gempa bumi, stragrafi dan gunung berapi.
· Iklim : curah
hujan yang tinggi.
· Keadaan
topografi : lereng yang curam.
· Keadaan air : kondisi
drainase yang tersumbat, akumulasi massa air, erosi dalam, pelarutan dan
tekanan hidrostatika.
· Tutup lahan
yang mengurangi tahan geser, misalnya tanah kritis.
· Getaran yang
diakibatkan oleh gempa bumi, ledakan, getaran mesin, dan getaran lalu lintas
kendaraan.
b) Faktor manusia
· Pemotongan tebing
pada penambangan batu di lereg yang terjal.
· Penimbunan
tanah urugan di daerah lereng.
· Kegagalan
struktur dinding penahan tanah.
· Penggundulan
hutan.
· Budidaya kolam
ikan diatas lereng.
· Sistem pertanian
yang tidak memperhatikan irigasi yang aman.
· Pengembangan
wilayah yang tidak di imbangi dengan kesadaran masyarakat, sehingga RUTR tidak
ditaati yang akhirnya merugikan sendiri.
· Sistem drainase
daerah lereng yang tidak baik.
Tanda-tanda tanah longsor yaitu sebagai berikut :
· Munculnya
retakan-retakan di lereng yang sejajar dengan arah tebing. Biasanya terjadi
setelah hujan.
· Munculnya mata
air baru secara tiba-tiba.
· Tebing rapuh
dan kerikil mulai berjatuhan.
· Jika musim
hujan biasanya air tergenang, menjelang bencana itu, airnya langsung hilang.
· Pintu dan
jendela yang sulit dibuka.
· Runtuhnya
bagian tanah dalam jumlah besar.
· Pohon/tiang
listrik banyak yang miring.
· Halaman/dalam
rumah tiba-tiba ambles.
Wilayah yang rawan tanah longsor di Indonesia
Di Indonesia, terdapat ratusan lokasi rawan longsor dengan kerugian setiap
tahunnya mencapai miliaran rupiah. Berikut daerah-daerah yang berpotensi rawan
longsor yaitu :
§ Jawa Tengah ( 327
lokasi )
§ Jawa Barat ( 276 lokasi
)
§ Sumatera Barat ( 100
lokasi )
§ Sumatera Utara ( 53
lokasi )
§ Yogyakarta ( 30 lokasi
)
§ Kalimantan Barat ( 23
lokasi )
Pencegahan terjadinya bencana alam tanah longsor
· Jangan membuka
lahan persawahan dan membuat kolam di lereng bagian atas di dekat pemukiman.
· Buatlah
terasering ( sengkedan ) pada lereng yang terjal bila membangun pemukiman.
· Segera menutu
retakan tanah dan dipadatkan agar air tidak masuk ke dalam tanah dan melalui
retakan tersebut.
· Jangan memotong
tebing jalan menjadi tegak.
· Jangan
mendirikan rumah di tepi sungai yang rawan erosi.
· Jangan menebang
pohon di lereng.
· Jangan
membangun rumah di bawah tebing.
Hal-hal yang dilakukan selama dan sesudah terjadi
bencana
1. Tangga Darurat
Yang harus dilakukan dalam tahap tangga darurat adalah
penyelamatan dan pertolongan korban secepatnya supaya korban tidak bertambah.
2. Rehabilitasi
Upaya pemulihan korban dan prasarananya, meliputi
kondisi sosial, ekonomi, dan sarana transportasi. Selain itu dikaji juga
perkembangan tanah longsor dan teknik pengendaliannay supaya tanah longsor
tidak berkembang dan penentuan relokasi korban tanah longsor bila tanah longsor
sulit dikendalikan.
3. Rekontruksi
Penguatan bangunan-bangunan infrastruktur di daerah
rawan longsor tidak menjadi pertimbangan utama untuk mitigasi kerusakan yang
disebabkan oleh tanah longsor, karena kerentanan untuk bangunan-bangunan yang
dibangun pada jalur tanah longsor hampir 100%.

0 comments:
Post a Comment